Posts

Draken

Pernah hanya scroll-scroll timeline instagram, tap-tap story, scroll-scroll reels, padahal ga ada postingan sedih, kamu juga sesekali tertawa, tapi tiba-tiba matamu berkaca-kaca, semakin tebal, lalu runtuh ke pipi? Pernah merasa sangat tidak berharga, beban keluarga, cuma bisa terus-terusan bikin malu keluarga, ga pernah bisa bikin bangga, baru ngeberesin hal memalukan satu tapi malah bikin malu lagi di hal yang lain, merasa ga ada gunanya untuk keluarga? Ga mau buka-buka pekerjaan. Tumpukan buku-buku lagi ga bisa masuk. Mungkin sepasang barbel cukup bisa diangkat. -BAS-

Lebur

Teringat mimpi semalam yang bisa membuatku terbangun dalam keadaan kosong, sekosong-kosongnya. Keadaan dimana aku benar-benar pasrah, sepasrah-pasrahnya. Nyatanya itu lah hal yang benar-benar bisa membuatku kuat.  Tentang ketidakpastian. Perihal waktu yang detikannya tepat sekalipun. Aku hanya si sebenar-benarnya serba tidak tahu. -BAS-

Futura

Hari ini aku benar-benar menyadari bahwa kita tidak harus bertahan pada keadaan yang tidak pernah membuat kita nyaman. Ah aku ralat, bukan hari ini. Maksudku kemarin. Sudah jam tiga pagi ternyata. Sepertinya aku memilih untuk ga tidur dulu. Sama dengan seseorang yang selalu membuat kamu marah. Sudah sangat cukup membuktikan bahwa kamu ga nyaman. Lalu, apa lagi yang kamu harapkan?  Begitu pula dengan orang yang selalu membuatmu menangis. Karena sehati-hati apa pun kamu berbicara dan bertindak, kamu tidak akan berhasil sampai pada ujung jalan pikirannya. Bapak security sudah dituntut untuk sangat ketat. Kamu tidak akan pernah diizinkan bahkan untuk sekedar mengintip. Kamu semakin ga nyaman. Lalu, apa lagi yang kamu harapkan? Apa yang bisa diharapkan dari berjuang untuk sesuatu yang kamu tahu akan sama ga nyamannya dengan keadaan sekarang? Ketidaknyamanan yang baru kah? Atau kamu sedang berusaha meyakinkan dirimu sendiri kalau ketidaknyamanan di masa mendatang itu hanya ada di pikiran...
Pura-pura punya tujuan supaya nanti jadi ada tujuan adalah tingkatan lanjut dari nyari-nyari tujuan. *** Padahal posisiku sekarang sama seperti kamu dulu. Kebutuhannya juga sama seperti kamu dulu. Butuh dikuatkan, butuh didorong. Yah, ga separah kamu dulu, sih.

Kosong

Perihal menemani dari nol lalu ditinggalkan kemudian, aku sudah terlalu biasa. Saat sudah tidak nol, seleranya bukan aku lagi, ya kan? Lingkarannya bukan aku lagi, betul? Bagaimana kalau aku memulai misi mengurangi populasi "Nol" di dunia dengan mulai mengabdikan diri sebagai "Pasukan Menemani dari Nol"? Ide bagus bukan? Baiklah, sekarang sudah waktunya inisiatif pergi sendiri ke tempat pembuangan. Sudah hafal jalannya, kan? Ngomong-ngomong, aku mulai sangat lelah menunggu. Terlebih aku masih nol. -BAS-

Tabun

Seharusnya kamu tidak pernah tahu halaman ini. Jadi, aku bisa meluapkan semuanya tanpa menyakiti perasaan satu orang pun. Jujur saja, aku lelah setelah menjadi pelampiasan atas apa yang tidak pernah kamu dapatkan sebelumnya di luar sana. Tapi sanggupkah aku jika ingin keluar? Atau tak apa aku tinggal, tapi bisakah aku mendapat balasan? Kamu tahu? Yang terjadi belakangan ini, aku tidak bersuka cita. Apalagi, setelah sangat terasa peranku seolah hanya sebagai tempat sampah. -BAS-

Idiot

Aku mau ngomel. Boleh ga sih kalo aku lagi ngeluh, kalo kamu mau support, yaudah support aja? Ga usah pake marah-marah karena hal lain. Hal yang udah aku akui salah. Aku ga suka bapak. Bapak kalo udah ngomel, mau aku udah minta maaf sambil nangis-nangis pun, bakal terus ngomel nyerocos ga berkesudahan. Aku cape banget dengernya. Aku pergi ke luar untuk menghindar dari hal-hal yang ga aku suka di rumah. • • • 'Idiot,' dia bilang, saat kata 'goblok' trauma untuk keluar dari jari-jari aku. -BAS-