Posts

Pemilik Gitar Tua

Seneng banget! Seneng aja karena ternyata aku pernah ngelakuin sesuatu yang ternyata berarti untuk orang lain. Dan ternyata orang itu inget. Padahal aku bener-bener lupa. Dan bener-bener baru inget waktu orang itu memperkenalkan aku ke orang lain. Padahal waktu itu aku cuma berpikir ngelakuin sesuatu yang mau dan  bisa aku lakuin. Terima kasih karena sudah memperpanjang energiku hari ini. Aku usahakan agar kebaikanmu berantai. -BAS-

Gagap

Bagaimana bisa aku seperti lupa hal-hal kecil yang selalu aku lakukan?  Entah bagaimana aku bisa bingung saat mengancingkan baju dan celana, bagaimana memasukkan tangan kiri saat memakai kemeja bahkan tas ransel, kesulitan saat memasang peniti di kerudung, cara mengikat tali sepatu, memasang penyambung tali masker dan mengencangkannya, membuka tutup botol flip, kesulitan saat mengetik, bahkan aku lupa bagaimana posisi tidur ternyamanku. Aku tidak tahu apakah hanya perasaanku saja atau memang benar-benar terjadi. Mungkin saja tanda tertentu. Tanda kalau pikiranku sedang lelah mungkin? Tapi memikirkan cara bagaimana melakukan hal-hal sesederhana itu justru makin menambah beban pikiran bukan? Biasanya aku lancar melakukannya tanpa berpikir.  Jadi karena apa? Aku harus apa? Aku ingin seperti biasanya. *** Kalau boleh meminta, ada satu hal rutin dan sederhana lagi yang aku juga tidak ingin sampai lupa. Mendoakan kebaikan untukmu. -BAS-

Kemas-Kemas

Beberapa waktu lalu, aku mengeluarkan seseorang dari daftar teman dekatku. Alasannya hanya karena ia pernah menanyakan sesuatu yang aku tunjukkan hanya pada teman dekatku yang hanya beberapa. Sejujur-jujurnya, tidak ada perhatian seorang pun yang aku cari. Aku hanya membutuhkan orang-orang terdekat yang tidak perlu lagi menilaiku, tanpa peduli apa pun yang aku tunjukkan. Aku ingin menunjukkan apa saja tanpa merasa dihakimi. Tanpa dinilai baik atau buruk. Aku tidak ingin dicap buruk. Namun, aku juga tidak mau terbebani ekspektasi orang lain ketika suatu saat aku terlihat baik. Aku ingin menunjukkan apa saja tanpa dinilai. Jika ia benar-benar merasa ada yang berubah dan bertanya alasannya,... "Aku hanya ingin jadi benar-benar siap ketika nanti aku benar-benar menyerah dengan semuanya." -BAS-

Teman Pengadu

Image
  Sumber: Twitter @kikimulkimuch Haahhh~ kamu bisa baca pikiran aku kah, bang? Tulisanmu belakangan ini sangat menggambarkan apa yang sedang aku rasakan. Dan tulisan ini, di pagi hari ini, jadi puncaknya. Gereget. Tapi sekedar klik like pun aku ga berani. Sangat ingin aku jadikan wallpaper handphone. Tapi wallpaper astronaut-ku sekarang sudah terlanjur amat sangat keren. Sulit untuk tergantikan. Bagaimana kalau di laptop? Takut adikku pakai. Padahal aku benar-benar bisa tersenyum tenang saat melihat tulisanmu yang satu itu, bang. Ada saran dimana aku harus menyimpannya? Terima kasih karena sudah menemaniku merasakan hal yang sama. -BAS-

Curhat Pertama

Takdir memang suka datang tiba-tiba. Ga pake tanda-tanda. Kadang yang dadakan justru banyak jadinya. Kadang yang jadi, prosesnya akan segampang itu, secepat itu, semendadak itu. Tapi abang belum tahu sebenar-benarnya aku. Pun aku, belum tahu abang sama sekali. Bang, sekarang aku sudah ga punya teman. -BAS-

Jaga Baik-Baik, Ya.

Orang-orang yang aku percaya, perlahan, mulai menyimpan hatinya untuk seseorang yang benar-benar ia inginkan. Aku tidak bisa lagi jadi si anak paling manja dan menyebalkan di antara abang-abangnya. Aku juga mau ikut jaga hati seseorang yang mereka jaga. Hal yang sudah pasti terjadi, sebenarnya. Seharusnya, dari awal aku sudah tahu hari ini akan tiba. Selamat memasuki fase perjuangan hidup yang baru -- yang kalian tahu bahwa selalu aku takutkan, bahkan kini, saat kalian mulai benar-benar memasukinya. Salam, dari si bocah penakut yang tukang ngadu. Terima kasih karena sudah menjadi abang yang baik. -BAS-

Statuta

A: "Aku seneng, kamu lagi suka banget baca." B: "Aku stres." A: "Oh iya? Terus? Merasa baikan waktu lagi baca kah?" B: "Biar terbiasa ga punya teman aja." (Sambil tersenyum) Aku terlalu banyak berharap dari sebuah status dengan orang lain. Ingin selalu tahu kabar mereka, ingin selalu tahu apakah mereka baik-baik saja, ingin selalu diceritakan apa pun yang terjadi pada mereka, ingin selalu diajak main, ngobrol, dan masih banyak ingin-ingin yang lain -- yang intinya ingin selalu terlibat dalam kehidupan mereka. Karena hal itu, kadang aku kecewa, kadang aku terlalu banyak berpikir. Karena hal itu, orang-orang risih. Seharusnya mereka punya privasi. Aku harus sadar bahwa setiap orang tidak selalu sama dengan bagaimana aku ingin diperlakukan. Aku seharusnya tidak memaksakan. Bagaimana kalau aku singkirkan saja perihal status? Tidak peduli bahwa kita adalah teman, rekan kerja, sahabat, teman dekat, teman rasa keluarga, pacar, calon suami, apa pun itu. ...