Posts

BINTANG : Intro

Hey, beri aku izin untuk bercerita tentang seseorang yang cukup menarik, di sini. Tapi, nanti dulu. Mungkin aku butuh beberapa hari hingga ceritanya sampai ke matamu. -BAS-

Timbang

Baru saja membaca tulisan Saudade-ku .  Tulisan saat aku teringat dengan rumah. Saat aku merasa sudah terlalu sombong dengan rumah. Saat dengan sendirinya ingin kembali. Kini aku terus-terusan di rumah. Namun, yang terus aku pikirkan hanya bagaimana cara agar bisa pergi dari sini. Pergi yang jauh. Pergi agar tidak tidur di sini. Bukan, bukan karena bosan. Karena di sini, inginku tidak pernah terpenuhi. Karena sukaku tidak pernah diperhatikan. Karena aku tidak bisa melakukan apa pun. Karena aku merasa dibatasi. Karena aku ditekan. Mereka tidak salah dengan rasa protektifnya. Tapi aku ditekan. Aku pernah menulis tapi entah dimana aku lupa:  "Mau pulang" terdengar jauh lebih menyenangkan daripada "sudah waktunya pulang." Jadi, apa yang rumah inginkan? Pilihannya hanya dua bukan? Membiarkan aku dengan akal sehatku untuk kemudian mau pulang kapan pun semauku ; atau menahanku untuk kemudian berpikir tidak ingin lagi di sini. Lalu, lagu Di Beranda dari B...

Pelipuran

Aku suka main sama kamu! Soalnya kalo duduk berhadapan satu meja dan harus berbagi pijakan kaki, kamu pasti ambil sisi terluar dan kakiku di sisi dalam. Bukan berselang-seling. Aku suka main sama kamu! Soalnya blablabla banyak lainnya. Dulu, ada yang suka bilang gitu. Sesederhana itu, tapi menyenangkan mendengarnya. -BAS-

Monolog tanpa Audiens : Salah

"Di sini, aku ga berhak memiliki hak," seseorang bicara padaku. Hari ini dia sangat cerewet. Memang selalu begitu. Seseorang ini senang sekali mengajakku bicara. Padahal responku selalu hanya diam. "Tapi aku tau kamu memikirkan omonganku," katanya. Hari ini ia banyak bercerita. Waktu aku kecil, pantatku tersundut obat nyamuk bakar waktu terjatuh saat aku bermain-main di dekatnya. Sakit. Panas. Tapi aku tidak menangis seperti yang anak kecil lain biasa lakukan. Aku hanya melihat ke arah adik laki-lakiku yang saat itu langsung terdiam lama sambil melihatku, meletakkan telunjuk di depan bibir, memberikan pesan agar ia diam dan tidak bilang pada ibu. Aku sangat takut dimarahi. Pertama kali saat sakit tidak biasaku muncul, awalnya aku tidak berani bilang apa-apa. Sebetulnya, aku sangat merasa kalau itu bukan sakit yang biasa. Agak menakutkan kalau aku rasakan dari tanda-tandanya. Aku tidak berani bilang. Takut aku disalahkan. Takut pola hidupku di asrama yang ak...

Rengsa

Dunia, aku boleh bilang kamu curang ga? Boleh ga kalau kamu maksa aku tapi yang aku inginkan tetap kamu pikirkan? Hey, pada siapa lagi aku harus mengalah? Pada apa lagi aku harus menurut? Kurang bagaimana lagi aku menerima? Kapan lagi aku akan dituntut? Dunia, aku terlalu penakut bukan? Terlalu ringkih untuk dapat berhadapan dengan kamu. Begitulah. Hidupku kembali menjadi begini-begini saja. Melawan pun begitu-begitu saja. Lalu, tidak terjadi apa-apa. Payah! -BAS-

Kan ...

Merasa sepi kala sendirian, tapi tak pada semua bisa berteman. Bukan menjauh dari keramaian, hanya terasa setiap pandang penuh dengan penilaian. Menguliti hingga ketulang, merasuk ke perasaan yang tidak suka dengan gunjingan yang beberapa bisa ia ramalkan. Terlalu merasa kurang ajar untuk bergabung tanpa kontribusi tersumbang. Apalagi ucapan bapak makin seperti sindiran berulang-ulang. Namun, tetap jadi omongan juga kala diri mengasingkan. Di depan memaklumi pendiam, belum tentu sama makian di belakang. Akhirnya masih harus berusaha memilih tidak terpengaruh orang. Terlalu sering kepikiran. Walau kadang juga benar. -BAS-

Pusa

Kalau kamu terlalu tahu aku, kamu akan sadar setega apa sikap perhatianku pada seseorang. Kamu akan paham sesadis apa aku benar-benar peduli pada orang lain. Kamu akan mengerti pikirku yang menganggap bahwa baik pada manusia tidak harus selalu dengan cara yang terlihat baik-baik. Kali ini, aku buntu harus bersikap apa. Orang yang aku sangat pedulikan masa depannya terlalu mudah merasa jatuh. Dengan cara baik-baik pun ia tetap bisa jatuh. Pun kalau ia cukup tahu aku, aku bulat seratus persen yakin kalau hatinya tidak cukup mampu menerima caraku benar-benar peduli. Ia pasti menganggapku jahat. Sebetulnya aku tak apa dianggap jahat. Tapi, ada syaratnya: berdampak baik pada masa depannya yang benar-benar aku pedulikan. Tapi kalau ia benar-benar tidak peduli dan tidak menerima maksudku kan 'dianggap jahat'-nya aku jadi terasa percuma. Malam ini, aku baru menyentilnya sedikit. Lalu, aku merasa sudah menjadi manusia paling jahat sejagat raya. Aku tidak mau minta maaf. Dem...