Posts

Kosong

Perihal menemani dari nol lalu ditinggalkan kemudian, aku sudah terlalu biasa. Saat sudah tidak nol, seleranya bukan aku lagi, ya kan? Lingkarannya bukan aku lagi, betul? Bagaimana kalau aku memulai misi mengurangi populasi "Nol" di dunia dengan mulai mengabdikan diri sebagai "Pasukan Menemani dari Nol"? Ide bagus bukan? Baiklah, sekarang sudah waktunya inisiatif pergi sendiri ke tempat pembuangan. Sudah hafal jalannya, kan? Ngomong-ngomong, aku mulai sangat lelah menunggu. Terlebih aku masih nol. -BAS-

Tabun

Seharusnya kamu tidak pernah tahu halaman ini. Jadi, aku bisa meluapkan semuanya tanpa menyakiti perasaan satu orang pun. Jujur saja, aku lelah setelah menjadi pelampiasan atas apa yang tidak pernah kamu dapatkan sebelumnya di luar sana. Tapi sanggupkah aku jika ingin keluar? Atau tak apa aku tinggal, tapi bisakah aku mendapat balasan? Kamu tahu? Yang terjadi belakangan ini, aku tidak bersuka cita. Apalagi, setelah sangat terasa peranku seolah hanya sebagai tempat sampah. -BAS-

Idiot

Aku mau ngomel. Boleh ga sih kalo aku lagi ngeluh, kalo kamu mau support, yaudah support aja? Ga usah pake marah-marah karena hal lain. Hal yang udah aku akui salah. Aku ga suka bapak. Bapak kalo udah ngomel, mau aku udah minta maaf sambil nangis-nangis pun, bakal terus ngomel nyerocos ga berkesudahan. Aku cape banget dengernya. Aku pergi ke luar untuk menghindar dari hal-hal yang ga aku suka di rumah. • • • 'Idiot,' dia bilang, saat kata 'goblok' trauma untuk keluar dari jari-jari aku. -BAS-

Tekad

Aku tahu seseorang yang kelihatannya sangat kuat tapi sebetulnya sangat ga bisa sendirian. Tanpa orang lain langsung tahu, sering merengek kesepian. Sementara aku lebih tenang pergi sendiri. Semua orang punya keperluannya masing-masing, bukan? Punya kepentingannya sendiri-sendiri, ya kan? Aku suka pergi beramai-ramai. Tapi, aku juga ga masalah untuk ga ikut setelah berbagai diskusi memang ga memungkinkan aku ikut. Atau bisa langsung ambil keputusan ga ikut tanpa harus bertanya apa-apa lagi kalau langsung ditembak keputusan yang jelas-jelas ga berpikir tentang orang lain. Aku pergi sendiri saja. Aku juga suka berada di dalam perjalanan panjang. Pergi ke suatu tempat tanpa ada hal khusus yang dituju, lalu kembali pulang, mungkin sudah sering orang-orang terdekatku dengar. Bahkan, ibu sudah paham. Asalkan, ... (Baiklah, baiklah, aku tahu batasnya. Lagipula hanya hal itu yang aku takutkan; hanya itu yang bisa membuatku menangis panik) . Aku bisa dibilang gila karena mengambil perjalanan ja...

Kekar

Ketidaksengajaan dengar obrolan orang hari ini: X: "BMC apaan?" Y: "Rumah sakit. Langganan gua itu." Pikiranku: "Rumah sakit? Langganan? Langganan sakit juga dong? Terus dia bangga?"  Pikiranku juga beberapa detik kemudian: "Hey, hey! Bisa jadi langganan cek kesehatan, kan? Justru jadi kelihatan kalau dia sangat peduli sama kesehatannya, kan?" Menyenangkan memang sesekali mencuri dengar pembicaraan orang yang tidak dikenal. Tapi, kadang sulit untuk mengendalikan pikiran agar tidak berasumsi. Atau minimal, ya, berasumsi yang baik-baik saja. Benar juga! Yang begini-begini sering aku dapatkan saat sedang sendiri dan tidak melakukan apa-apa. Saat janjian, kadang aku terlalu bersemangat. Kadang terlalu inisiatif. Ada yang bilang mentalku sudah beda. Bukan lagi tipe yang menunggu lalu bilang akan menyusul nantinya. Salah satu faktornya mungkin karena aku bukan yang ada di kota basecamp . Dijanjikan sedikit saja, aku langsung fokuskan ke arah sana. Pada...

Kembali

Aku mau ga lagi berpikir tentang "orang lain begini, aku begini; aku begini, orang lain begitu." Biar orang lain mau melakukan apa. Kalau suatu saat perbuatanku salah pun itu sepenuhnya karena ketidaksengajaan yang tidak seutuhnya dimaksudkan untuk salah, pun murni aku yang salah.  Aku hanya ingin punya niat baik, bukan niat balas budi, apalagi balas dendam.   Bismillah. -BAS-

Rapat

Aku mau bercerita pada kamu saja. Orang-orang terasa sangat pintar bercerita hingga aku tidak kebagian waktu. Sahut-menyahut beradu kata, sementara aku takut menyela. Di lain waktu, aku tidak sepenuhnya paham apa yang mereka bicarakan -- hanya bisa menebak-nebak. Aku mau bercerita pada kamu saja. Tentang semua yang terjadi selama seminggu tanpa orang lain sela dengan kata-kata kurang sedap -- yang padahal hanya tebakan; yang padahal bisa mereka tanyakan; yang padahal aku bersedia menjelaskan -- sementara aku belum selesai menceritakan semuanya. Aku mau bercerita pada kamu saja. Jarang-jarang kan aku bercerita? -BAS-