Posts

Bumi dan Malam

Satu sisi dari Bumi. Malam menyukainya. Begitu pun ia. Begitu menyukai Malam. Bahkan sejak awal mereka berjumpa. Mulai senja, hingga gelap datang. Semakin lama semakin jelas, semakin lama semakin pekat. Bumi selalu berusaha memperlama gelap. Menghambat laju putarannya. Agar ia dapat bersama Malam lebih lama. Gelap terasa lebih lama. Sangat lama. Berbagai kisah mereka ceritakan. Berbagai kisah indah pun mereka rangkai. Namun Bumi tetap akan berputar, bukan? Bumi akan menghadap Matahari. Dan perlahan sisi Bumi itu pun akan meninggalkan Malam. Seberapa besar pun janji Bumi untuk tidak meninggalkannya. Bumi lelah jika harus terus menerus menahan putarannya. Menahan egonya, bahkan untuk Malam yang dicintainya. Lalu sekarang, kenapa tidak Malam yang berjuang untuk Bumi? Berusaha agar mereka dapat bertemu, bersatu kembali. Tapi bagaimana caranya? Mempercepat putaran Bumi kah? Bisakah ia melakukannya? Itu membutuhkan izin Bumi. Bagaimana jika Bumi tak ingin lagi bertemu dengannya?...

Sapa Atmosfer

Hai pagi, siap menyambutkah hari ini? Menyambut manusia-manusia yang akan dengan penuh semangat menjalani hari ini. Hai matahari, siap menerangikah hari ini? Menerangi dan memberi energi bagi bumi dan segala isinya. Menghangatkan jiwa-jiwa yang telah semalaman dihempas rasa dingin. Hai angin, akan bawa apa hari ini? Akankah kau membawa awan ke kota ini? Saranku, bawa saja. Pupuk awan agar hujan turun pada kota yang amat dicintai warganya ini. Bawa pula salamku pada seseorang di luar sana. Tanyakan bagaimana kabarnya. Pastikan ia baik-baik saja lalu pergi jauhlah. Aku tak ingin mengganggunya. Hanya ingin memastikan ia baik-baik saja. Apa kabar hujan? Datanglah. Mari temani aku bercerita. Tentang rindu yang tak pernah terucap di bibir, namun tak dapat terbantahkan. Tentang rasa yang tak orang lain tau, bahkan si empunya jiwa yang menumbuhkan rasa itu. Tentang isi kepala yang hanya berisikan satu orang, walaupun ia tak pernah tau. Dengarkan ceritaku, yang entah menyedihkan at...

Rintik Hujan: Kadang Aku 'tak Didengar

Aku bunyi rintik hujan. Selalu menyertai ketika hujan turun. Ketika pukulannya cukup kuat untuk membunyikan bidang tempat ia jatuh. Ketika sudutnya cukup untuk tidak sekedar menggores bidang tersebut. Ketika besar butirnya cukup untuk menciptakan pukulan yang cukup kuat.

Hujan: Mauku? Siapa yang Peduli?

Hai, aku hujan. Aku bukan apa-apa. Aku cuma berbentuk butiran-butiran. Sebelum menjadi butiran, aku jauh lebih kecil lagi. Aku bukan sesuatu yang bisa diharapkan. Sangat mudah berubah dari satu bentuk ke bentuk lain. Apalagi saat gelombang-gelombang berkeroyok itu menyerangku bertubi-tubi. Atau saat aku kedinginan hingga aku mau tidak mau harus saling berdekatan dengan teman-temanku. Aku bukan apa-apa. Di manapun, aku selalu terombang-ambing. Di udara, di darat, maupun di laut, ada yang membawaku. Mereka membawaku kemanapun mereka mau. Mereka tak peduli apakah aku ingin pergi ke sini, atau ke sana, mereka hanya akan membawaku kemana mereka mau. Dan aku hanya bisa pasrah.  Aku tak pernah bisa memaksa mereka untuk pergi ke tempat yang aku mau. Atau memaksa tinggal karena tak mau ikut dengan mereka. Kalau mereka memang mau membawaku ke tempat yang aku inginkan, berarti aku beruntung. Sisanya? Sekali lagi aku takkan bisa memaksa. Lagipula apa peduli mereka soal "mauku"? ...

Bingung karena Bingung (?)

Bingung, sebenarnya ini rasa apa. Marah? Bukan. Kecewa? Sepertinya bukan juga. Sedih? Sedih karena apa? Bingung. Bahkan bingung apa yang ingin diungkapkan, ataupun yang hanya sekedar dituliskan.  Mungkin harus minta maaf. Maaf karena tak pengertian. Maaf akan segala keegoisan. Maafkan hati yang sedang butuh perhatian. Maafkan diri yang sedang manja. Maafkan otak yang sedang tidak ingin berpikir positif. Aku pun masih dibuat bingung atas segala kebingungan yang ada. Tapi, semoga ini hanya rasa sesaat, dan pengertian serta ketulusan itu akan kembali. -BAS-

Siapa Jahat?

Ketika suhu dingin telah menempati satu sisi tubuhmu (hanya satu sisi!), dan saat satu sisi yang sama dari tubuhmu begitu berat mengikuti apa maumu (hanya satu sisi yang sama!), saat itu lah kau akan tau betapa berharganya kata sehat, betapa menyenangkannya lingkungan segar, dan betapa berartinya waktu luang. Kau akan tau betapa jahatnya makanan yang kau santap dengan rasa senang. Jahatnya makanan yang sangat kau inginkan dan minuman yang terlihat begitu menyegarkan. Kau akan tau betapa jahatnya sebuah sistem pendidikan. Kau lihat? Bahkan ilmu yang bermanfaat pun bisa terlihat begitu jahat. Kau akan tau betapa jahatnya lingkungan yang seolah menyenangkan. Lingkungan tempat bertemu begitu banyaknya manusia di sekitarmu yang mungkin kau rasa dapat menyediakan segala keperluanmu dan terasa memudahkan. Kau akan merasakan betapa jahatnya manusia, yang terus menerus mengganggumu dengan segala aktivitas dan suara-suara atau apapun yang dibuatnya. Kau akan tau jahatnya rasa tulus. Ketulus...

Bisakah?

Bisakah korbankan sedikit waktu untuk mereka yang mengorbankan waktu untukmu? Bisakah korbankan sedikit lelah untuk mereka yang mengorbankan lelah, bahkan sakit, untukmu? Bisakah berikan perhatian untuk mereka yang selalu memberikan perhatiannya padamu? Bukan pamrih, hanya naluri manusia yang selalu ingin dihargai. Karena kadang ucapan bisa keluar begitu saja tanpa melewati hati. Sekedar formalitas dalam budaya setempat tanpa tahu makna. Kata yang bisa diucapkan kapanpun dimanapun dan untuk siapapun jika tak mengerti arti sesungguhnya. Bukan ucapan yang harus diajarkan. Hati yang perlu ditanamkan.  Bisakah hati dan perbuatan mengikuti dengan benar kata-kata yang terucap? Jika hati telah membudaya, maka ucapan dan perbuatan akan ada bersamanya. -BAS-