Posts

Tahu Diri

Ujung pertemuan di Depan Rumah kemarin malam, satu poin yang mungkin bisa aku ambil kesimpulan. Seseorang bisa saja memilih mundur, atau bahkan tak menganggap serius, perasaan suka pada orang lain karena merasa orang tersebut berada di level yang jauh lebih tinggi darinya. Tahu diri, kata orang-orang. Ya, nyatanya yang kita butuhkan adalah tahu diri, bukan? Tahu bagaimana nyatanya diri kita sendiri. Bukan yang ditinggikan, apa lagi yang direndah-rendahkan. Jadi, kamu sudah tahu posisi kamu di mata orang yang kamu suka atau belum? -BAS-

Lewah

Kamu pernah menangis karena pikiranmu sendiri? Ga ada yang salah. Pikiranmu juga belum bisa dipastikan kebenarannya. Ga ada yang menyakiti kamu. Hanya pikiranmu sendiri saja. Ini sama dengan bunuh diri kah? Membunuh hati sendiri dengan asumsi-asumsi, mungkin? -BAS-

Pacu

Berkat momen-momen sekira sebulan ini, aku kembali sadar bahwa di sisi lain dari aturan-aturan dengan pemahaman konvensional di sekitar, ada wanita-wanita modern dengan cara-cara berpikir modern mereka masing-masing. Kekhawatiranku dikembalikan pada tempatnya, menyisakan tentang menjalani hidup sebagaimana ia mengalir saja. Bukankah berpindah fase hidup hanya tentang bertemu dengan permasalahan yang berbeda? Kenapa berburu-buru? Kenapa beradu-adu? Lalu, apakah harus? Katanya, kami hanya bisa menunggu. Tapi, kami juga bisa memilih kan? Memilih orang-orang yang datang, menunggu seseorang yang tepat. Artinya, kami bukan sama sekali tidak berusaha untuk mendapatkan yang baik. Tidak muluk-muluk karena tidak harus yang terbaik. Tapi sekali lagi, apakah aku harus? Bukankah kita hanya membutuhkan teman untuk melewati hidup? Menurutmu? Apa yang terjadi jika aku melewatkan salah satu? Satu kekhawatiran sudah kembali ke tempatnya. Tinggal melewati hidup sebagaimana ia mengalir saja. Mungkin saja ...

Satu dari Empat

Empat belas hari. Aku kaget bukan main membaca kabar yang bukan dari kamu. Bahkan kabar persetujuan pun aku tidak dapat. Tapi yang dalam pikiranku, hanya masih belum percaya. Namun, tetap senang dan banyak berpikir bahwa akhirnya kamu bisa berakhir dengan pria pertama. Tujuh hari. Lelah memang hari ini. Mengusahakan orang-orang terdekat kita mendapat kabar memang bukan pekerjaan mudah. Tapi, banyak yang peduli sama kamu. Oh iya, kita jadi berkumpul lengkap lagi setelah sekian lama. Ditambah makan besar bersama-sama. Aku senang. Hari satu. Hey, kami sudah berputar-putar. Sudah berpusing-pusing sampai malam. Kalau yang dipikirmu hanya kurangnya, awas saja, ya! Hari nol. Melihatmu dari jauh yang sibuk bersalaman entah dengan siapa saja, kami banyak mengobrol. Kami numpang berkumpul di tempatmu, ya. Sudah lama tidak bertemu lengkap. Hehe. Mau tahu hasil obrolan kami? Yang pasti aku salut pada orang-orang sepertimu yang mampu dengan sangat berani mengambil keputusan untuk selama ...

Galur

Perihal menghargai sesuatu, setiap orang memang berbeda-beda. Bagi yang kesepian, beberapa pertemuan akan sangat berkesan; Untuk yang selalu merasa nyaman, setiap ganjal bawa kembali sadar; Mereka yang tak mudah mendapat informasi, setiap yang inderanya tangkap akan sangat berarti. Aku mau bercerita sedikit saja. Data-data yang setiap detiknya berubah sudah banyak aku temui. Dan aku tahu betul seberapa besar dampaknya meski sebegitu kecil ia berubah. Dari sana aku bisa menghargai mereka. Lelah mengolahnya. Lelah juga mengumpulkannya. Aku tahu. Sementara yang biasa atau dipaksa, mungkin bisa santai saja. Seperti seseorang yang merasa harus tetap ngobrol tapi tak ada bahan bagus. Lalu, jadi asal dikeluarkan dari mulut saja. "Cuacanya cerah, ya." Duarrrr! Petir menyambar. Hehe. -BAS-

Bukan Rapunzel

Wahai, pria berkuda putih. Barangkali di balik semua yang tertutup padaku bukan sesuatu yang kamu harapkan; bukan semua hal yang kamu pikirkan. Yang mungkin tentang rambut panjang dengan segala kepolosannya. Mungkin aku akan membawamu bertemu dengan teman-temanku selain keluargaku yang sudah pasti. Terlibat dalam obrolan bersama mereka selain melihat caraku berinteraksi. Ngobrol ngalor-ngidul di beberapa cafe langganan, atau kemalaman karena main Uno atau Werewolf dengan banyak "sekali lagi"-nya. Atau hadirnya seseorang yang baru sampai di tempat janjian jam delapan malam walau sudah bilang "OTW" sejak pukul lima. Yang lalu mengajak pindah cari makan, kelaparan. Kadang-kadang, tapi sangat jarang, dilanjutkan mondar-mandir sendirian cari hotel karena malas pulang ke rumah setelah semuanya kenyang dan sudah ingin pulang. Ya, sendirian dan tahunya mereka aku sampai rumah jauh melewati jam malam. Lebih sering jadi sangat kesal karena harus pulang duluan gara-gara j...

Randu

Hei, pria baik. Yaa, baiklah. Mungkin aku memang hanya mudah tersanjung dengan kebaikan orang lain saja. Tapi kali ini, akhirnya aku merasakan takut tidak bisa menemukan orang lain yang baiknya seperti kamu. Minimal baiknya seperti kamu dulu. Kalau lebih baik, kuanggap bonus. Namun untuk minimalnya saja aku takut tidak terpenuhi. Kamu pasti sadar sudah mengajarkan begitu banyak hal bahkan yang tidak diberikan oleh orang lain. Tapi tanpa kamu sadar, yang aku pelajari darimu justru jaaaauuuhhh lebih banyak lagi. Ah, tapi daripada jadi pikiran, sebelum kamu bertemu dengan wanita baikmu, aku tidak mau takut dulu, ya. Jangan salah sangka. Aku tidak mau menghalangi. Tapi aku boleh lebih banyak menyerap kebaikan kamu dulu, kan? -BAS-